Sabtu, 05 Oktober 2013

ISLAM KEJAWEN



Ajaran Kejawen bukanlah agama, melainkan sebuah falsafahhidup.

Karena itu, menganut danmenghayati ajaran ini, tidak mesti keluar dari agama yang semula dipeluk. Seorang Muslim yang juga menghayati AjaranKejawen, tetaplah seorang Muslim: Kejawen tak lebih dari sebuah sudut pandangatau kerangka dalam menafsirkan Islam.Dengan kata lain, seorang penganut Islam Kejawen, adalah tetap seorangMuslim yang memiliki berbagai kesamaan fundamental dengan Muslim lainnya diberbagai belahan penjuru dunia dalam hal keyakinan, sistem etika maupun praktekritual. Namun saat yang sama, iamemiliki perbedaan dalam hal citarasa keagamaan, dalam hal pandangan dunia dandalam penerapan nilai-nilai agama pada hidup keseharian, yang bertolak daripenghayatan terhadap kenyataan hidup dan kebudayaan yang melingkupinya, yangniscaya berbeda dengan Muslim di berbagai belahan dunia lainnya.

Cara berislam orang Jawa niscaya berbeda dengan caraberislam orang Badui Arab, sebagaimana berbeda pula dengan cara berislam orangIndia, Persia, Cina dan Eropa. Padakenyataannya, kebudayaan lokal – sebagaimana kepentingan politik sebuah rezim -tak bisa diabaikan dalam membangun budaya masyarakat Islam di berbagai belahandunia. Saya ingin membuat sebuahpembanding: bagaimana kebudayaan Persia menjadi titik tolak bagi kemunculansebuah cara berislam yang khas, berbeda dengan corak yang lazim berkembang ataumenjadi arus utama di Jazirah Arab.

Henry Corbin, dalam karyanya Imajinasi Kreatif SufismeIbnu Arabi yang diterbitkan Penerbis LKIS (judul aslinya L'Imagination creativedans le Soufism d"Ibn 'Arabi terbitan Princeton University Press New York),memaparkan apa yang telah dihasilkan oleh seorang jenius spiritual Persiabernama Syihabuddin Yahya Suhrawardi (1155-1191) sebagai berikut: "Meskipunhidupnya terputus begitu singkat, ia berhasil mewujudkan rencana sebuah rencanabesarm menghidupkan kembali kebijakan Persia kuno di Iran. Doktrinnya tentang cahaya dan kegelapan. Hasilnya adalah filsafat, atau tepatnyadengan mengambil istilah bahasa Arab dalam arti asal katanya, "teosofi cahaya"(hikmat al-isyraq) yang banyak kitatemukan persamaannya di halaman-halaman Ibnu Arabi. Dalam mewujudkan rencana besar ini Suhrawardimenyadari bahwa dirinya tengah mendirikan 'Kebijakan Timur' yang juga telahdicita-citakan Ibnu Sina dan yang pengetahuannya kelak akan sampai ke RogerBacon pada abad 13." Seperti apakahproduk pemikiran Suhrawardi yang diangkat dari kebijakan Persia kuno ini? Henry Corbin menjelaskan: "Salah satu ciriyang esensial adalah bahwa di dalamnya filsafat dan pengalaman mistik tidakbisa diceraikan; filsafat yang tidak berpuncak pada metafisika ekstase adalahspekulasi yang sia-sia, pengalaman mistik yang tidak dilandasi pengkajianfilsafat yang logis akan menghadapi bahaya kehinaan dan ketersesatan."

Secara lebih teknis, Suhrawardi berusaha melestarikan hakistimewa imajinasi sebagai organ dunia tengah, sekaligus melestarikanrealitas-realitas khusus peristiwa-peristiwa penampakan Ilahi yang melampauiapa yang bisa dicerap oleh panca indera.Dalam karya-karyanya, Suhrawardi menampilkan sebuah tema khas: pencariandan perjumpaan dengan Roh Kudus, akal aktif, Malaikat Pengetahuan, dan wahyu,yang kesemuanya itu berada di alamal-mi'tsal (dunia citra bayangan).

Apa yang dikerjakan oleh Suhrawardi, kemudian bertautandengan karya-karya besar Ibnu Arabi.Pemikiran kedua mistikus besar ini kemudian benar-benar bercampur baur, menjadilandasan bagi terbangunnya sebuah pandangan dunia Islam yang khas Iran. Ide dominan dari dua tokoh ini yang kemudiandilanjutkan oleh para tokoh Persia lainnya adalah mengenai keberadaan teofani(tajalli, Penampakan Tuhan) dalam bentuk manusia. Manusia ini adalah manusia yang telahmencapai tataran kesempurnaan: ia merupakan manifestasi dari Tuhan. Dalam doktrin Islam Syiah yang berkembang diIran, sosok manusia ideal sebagai manifestasi Tuhan ini dipahami sebagai paraimam suci keturunan Nabi Muhammad dari garis Imam Ali dan Fatimah.

Sementara menyangkut diri Ibnu Arabi sendiri, denganbertumpu pada metode beragama yang mengedepankan Imajinasi Kreatif sebagaiorgan untuk menangkap kebenaran sejati, ia masuk pada rangkaian pengalamanspiritual yang kaya: pertemuan dengan berbagai wujud tak kasat mata sepertiNabi Khidir, juga sosok gadis jelita Sophia Aeterna, dan akhirnya pencapaian berbagai pengetahuantanpa proses belajar yang lazim. Iamisalnya, bisa melahirkan karya monumental berjudul Fushus al-Hikam (MutiaraKebijaksanaan Para Nabi), berkat suatu penampakan (vision) dalam sebuah mimpipada tahun 627 H/1230 M. Dalam mimpi ituNabi Muhammad menampakkan diri kepada Ibnu Arabi sambil memegang kitab yangjudulnya beliau ucapkan sendiri dan beliaupun memerintahkan agar ajaran-ajarandi dalam kitab itu ditulis demi kemanfaatan yang lebih besar bagimurid-muridnya. Sementara karya hebatlainnya, Futuhat al-Makiyyah fi Ma'rifah al-Asrar al-Malikiyyah wa al-Mulkiyyah(Perihal Wahyu-wahyu yang Turun di Mekkah Mengenai Pengetahuan Raja danKekuasaan), disusun berdasarkan ilham dan visi yang membanjiri Ibnu Arabiketika berthawaf mengelilingi Ka'bah dan setelah bertemu dengan sosok gadisjelita bernama Sofia yang muncul dari kegelapan malam.

Lebih jauh bisa dijelaskan, melalui cara beragama yangmenekankan pentingnya pengalaman ruhani secara langsung dengan memanfaatkankeberadaan organ Imajinasi Kreatif, Suhrawardi, Ibnu Arabi dan para penerusnyakemudian memperkenalkan apa yang disebut dengan ta'wil, penafsiran bathin atauspiritual esoterik, terhadap ajaran-ajaran agama sebagaimana termaktub dalamKitab Suci maupun Hadits Nabi. Diyakinibahwa di makna lahiriahnya, ayat-ayat Al Qur'an mengandung makna bathin yanghanya bisa dilihat oleh mereka yang mata bathinnya atau Imajinasi Kreatifnyatelah teraktivasi melalui disiplin ruhani tertentu.

Cara pendekatan seperti ini, tentu saja berbeda dengancara beragama yang yang sangat dominan di kalangan Sunni yang berbasis diJazirah Arab dan mewarnai dunia Islam lainnya: yang pertama adalah kelompokyang cenderung menolak kesahihan pengalaman mistis sekaligus menolak filsafatsebagaimana ditampilkan mayoritas Ahli Hadits atau Ulama Fiqh, yang keduaadalah kelompok tasawuf yang memuliakan pengalaman mistis tapi mengabaikanfilsafat.

Dominasi kelompok tasawuf yang anti filsafat di kalanganSunni, merupakan andil sosok yang sangat berpengaruh: Imam Al-Ghozali yangdigelari Hujattul Islam. SeranganAl-Ghozali terhadap filsafat berperan melumpuhkan tradisi intelektual dikalangan Sunni. Sempat bangkit sesaat dimasa Ibnu Rusyid, tradisi intelektual ini kemudian hanya menjadi arus pinggiranyang dinikmati segelintir intelektual Sunni, hingga saat ini.

Sementara cara beragama yang legalistik, kering, bahkan padatitik tertentu membelengu potensi kemanusiaan yang menjadi tipikal mayoritasahli fikih dan ahli hadits, ironisnya justru mewabah di tempat asal muasalturunnya wahyu kepada Nabi Muhammad: Mekkah dan Madinah, yang berimbas padaJazirah Arab dan berbagai belahan dunia lainnya yang berkiblat kepadanya. Ini tak lepas dari kemenangan politikkelompok penerus Ibnu Taymiah yang anti-filsafat sekaligus anti-tasawuf. Kelompok ini menjadi dominan ketika Muhammadbin Abdul Wahhab yang berkoalisi dengan Dinasti Ibnu Suud, sukses menuaikemenangan politik dan lantas berkuasa di Arab Saudi hingga saat ini. Dan karena berada di jantung dunia Islam,pengaruhnya terhadap kawasan masyarakat Muslim lainnya jelas tak bisa diabaikan. Dengan jargon pemurnian Islam, kelompok inirelatif sukses meneguhkan hegemoninya di dunia Islam: corak Islam lain yangmengapresiasi tradisi lokal acapkali secara serampangan disebut sebagai bid'ahyang patut dihancurkan.

Sebetulnya, cara beragama yang legalistik dan keringitulah yang sempat dikhawatirkan oleh Sayyidina Ali menjangkiti umat Islam:

"Akan tiba waktunyabagi umatku, ketika tidak ada yang tersisa dari Al-Qur'an kecuali bentukluarnya dan tidak ada Islam kecuali namanya dan mereka akan memanggil dirimereka dengan nama tersebut walau mereka adalah umat yang paling jauh dari itu.Mesjid mereka akan penuh dengan jamaah tapi kosong dari petunjuk. Para pemimpinagama (fuqoha) masa itu merupakan para pemimpin agama paling jahat di bawahlangit, kemungkaran dan perselisihan akan muncul dari mereka dan kepada merekasemua itu akan dikembalikan."

(Sayyidina Ali dalam Bihar al-Anwar)

Itu pula yang dikritik oleh Fariduddin Attar, Sufi dariNishapur:

"Semua agama, seperti parateolog dan pengikut mereka memahami kata itu, adalah sesuatu yang lain dari apayang diperkirakan orang. Agama adalah sebuah kendaraan. Ekspresinya, ritualnya,moralnya, dan ajarannya yang lain dirancang untuk menimbulkan pengaruh tertentuyang memperbaiki, pada waktu tertentu, komunitas tertentu.

...agama dilembagakansebagai sebuah alat mendekati kebenaran. Bagi mereka yang berpikir dangkal,alat selalu menjadi tujuan, dan kendaraan menjadi berhala.

Hanya orang-orang yangbijak, bukan orang yang beragama atau berpengetahuan, yang dapat membuatkendaraan itu bergerak lagi."

Kembali pada Islam ala Jawa atau Islam Kejawen, jika kitamerujuk pada apa yang terjadi di Persia, jelas itu merupakan sebuah keniscayaanbahkan merupakan gejala yang sah. KetikaIslam hadir, Tanah Jawa ataupun Nusantara bukanlah padang tandus tanpaperadaban. Dalam beberapa hal, peradabandi kawasan ini telah demikian maju.Kejawen atau tradisi lokal Jawa yang telah diperkaya oleh KebudayaanHindu Budha dari India, merupakan sesuatu yang tak bisa dilupakan begitu sajaoleh manusia Jawa. Apalagi manusia Jawamemiliki memori kolektif bahwa dengan melandaskan kehidupan mereka pada budayaluhur sebagai hasil sintesa antara Kajewen dengan Hindu Budha, kejayaan politikdan kemakmuran ekonomi pernah dicapai, baik di masa Kerajaan Kutai, Sunda Galuhdan Pajajaran, Sriwijaya maupun Majapahit.

Sudah selayaknya, para cerdik pandai diTanah Jawa melanjutkan kebiasaan cerdas untuk mensintesiskan apa yang sudah ada(yaitu tradisi lokal) dengan apa yang baru hadir dan dipandang baik (termasukajaran Islam, baik yang dibawa oleh para mistikus Persia seperti SyeikhSubakir, maupun para pedagang Arab yang kemudian disebut sebagai parawali). Upaya sintesis antara Islam danKejawen ini, terutama dilakukan oleh raja-raja dan para pujangga dari kerajaanyang meneruskan tak hanya garis darah Majapahit tetapi juga sekaligus strategibudayanya: Pajang dan Mataram. SultanHadiwijaya, Panembahan Senopati, Sultan Agung, dan beberapa penerusnya, adalahsosok raja yang memanfaatkan kekuasaan politik mereka untuk melestarikan corakkeagamaan khas Tanah Jawa: agama yang dijawakan. Pada masa lalu, Hindu Budha telah dijawakansedemikian rupa sehingga Hindu Budha di Tanah Jawa dan Nusantara berbeda denganHindu Budha di negeri asalnya, India.Demikian pula, pada masa Pajang dan Mataram, Islam dijawakan sedemikianrupa sehingga jelas tak sama lagi citarasanya dengan Islam yang disampaikanoleh para pendakwahnya dari Persia maupun Jazirah Arab.

Lalu apa yang sebetulnya dimaksudkandengan menjawakan Islam? MenjawakanIslam artinya adalah menafsirkan Islam sesuai dengan tradisi mistik yang telahberkembang di Tanah Jawa, baik yang berangkat dari ajaran Kejawen asli maupunKejawen yang telah diperkaya dengan Hindu dan Budha. Konsep-konsep Kejawen seperti rahsa sejati, sukma sejati, manunggalingkawula gusti, harmoni jagad alitjagad ageng, termasuk ritual-ritual masyarakat Jawa seperti slametan, dipergunakan sebagai instrumenuntuk membumikan nilai-nilai universal Islam dalam kehidupan sehari-harimanusia Jawa. Cara pandang Kejawenmengenai hakikat dan struktur ruhani manusia, asal muasal dan tujuan kehidupan,hubungan antara wadah dan isi dan pemahaman bahwa isi lebih penting ketimbangwadah, dan berbagai konsep lainnya, melandasi tindakan orang Jawa dalammenafsirkan Islam. Secara keseluruhan,kita bisa melihat bahwa Islam Kejawen adalah sebuah sistem keagamaan yangmengedepankan dimensi mistik, sangat menghargai pengalaman ruhani, dan meyakinibahwa instrumen terpenting dalam menangkap kebenaran adalah rahsa sejati, yangbisa disejajarkan dengan intuisi, dzaukataupun Imajinasi Kreatif. Akal budiatau fakultas rasional, tentu saja tidak diabaikan, tetapi dianggap bukansebagai instrumen yang paling akurat karena ia memiliki keterbatasan: akal buditidak bisa menembus alam kasunyatan yang dalam khazanah Ibnu Arabi disebutdengan alam al-mitsal.

Kita bisa melihat, bahwa dengan corakdemikian, Islam Kejawen lebih dekat dengan corak Islam ala Persia sebagaimanadikembangkan oleh Suhrawardi dan Ibnu Arabi.Dan saat yang sama, berbeda cukup serius dengan Islam ala Timur Tengah,khususnya yang berorientasi pada purifikasi dan terpengaruh kuat oleh ajaranIbnu Taymiah dan Muhammad bin Abdul Wahab.Di Tanah Jawa sendiri, ketegangan antara Islam Kejawen dan Islam alaTimur Tengah ini muncul baik dalam dinamika politik berupa pergulatan antaraKesultanan Demak dengan Kerajaan Pajang dan Mataram, berbagai fragmenpenghukuman tokoh-tokoh mistik yang dianggap sesat seperti Syeikh Siti Jenar,Ki Ageng Kebo Kenongo, Syeikh Mutamakkin, juga dalam bentuk perdebatanintelektual antara para pujangga dan mistikus Islam Kejawen seperti RadenRonggo Warsito dan KGPAA Mangkunegoro IV dengan para lawannya. Pada masa Indonesia modern, perdebatan bahkanpergulatan antara Islam Kejawen dan Islam ala Timur Tengah ini tampak denganjelas pada masa pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalangan yang mengedepankan dimensi mistisIslam yang diujungtombaki Presiden RI pertama Soekarno, berhasil menancapkan rancangannegara ini lebih sebagai negara spiritualis tapi bukan negara agama, melaluipenetapan Pancasila yang memiliki sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa sebagaidasar negara. Konsep negara spiritualisini yang sebetulnya bisa menyatukan berbagai kalangan termasuk kalangannon-Muslim dari berbagai daerah di Indonesia.Tanpa itu, sulit dibayangkan negara ini bisa meraih kemerdekaannya,karena tak ada kemerdekaan tanpa persatuan.

Dalam karya monumentalnya Di BawahBendera Revolusi, Soekarno menulis penuh semangat:

"Islam is progress – Islam itukemajuan, begitulah telah saya tuliskan di dalam satu surat yangterdahulu. Kemajuan karena fardhu,kemajuan karena sunnah, tetapi juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkanoleh djaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batas-batasnya. Progress berarti barang yang baru, yang lebihtinggi tingkatannya daripada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, ciptaanbaru, creation baru – bukan mengulang barang yang dulu, bukan mengcopy barangyang lama. Di dalam politik, Islampun orang tidak boleh meng-copy saja barang-barang yang lama, tidak boleh maumengulang saja segala sistem-sistemnya jaman kalifah-kalifah yang besar. Kenapa orang-orang Islam di sini selamanyamenganjurkan political system seperti di jamannya khalifah-khalifah besaritu? Tidakkah di dalam langkahnya zamanyang lebih dari seribu tahun itu perikemanusiaan mendapatkan sistem-sistem baruyang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatannya ketimbang dulu? Tidakkah zaman sendiri menjelmakansistem-sistem baru yang cocok dengan keperluannya – cocok dengan keperluanzaman itu sendiri? Apinya zamankhalifah-khalifah yang besar itu? Ah,lupakah kita bahwa api ini bukan mereka yang menemukan, bukan mereka yangmenganggitkan? Bahwa mereka mengambilsaja api itu dari barang yang juga kita di zaman sekarang mempunyainya, yaknidari Kalam Allah dan Sunnahnya Rasul?

Tetapi apa yang kita ambildari Kalam Allah dan Sunnahnya Rasul itu?Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan!Abunya, debunya, ah, ya, asapnya!Abunya yang berupa celak mata dan sorban, abunya yang mencintai kemenyandan tunggangan onta, abunya yang bersifat Islam-muluk dan Islamibadat-zonder-taqwa, abunya yang tahu cuma baca Fatihah dan tahlil saja –tetapi bukan apinya yang menyala-nyala dari ujung jaman yang satu ke ujungzaman yang lain.

Begitulah saya punya seruandari Endeh. Mari kita camkan di dalamkita punya akal dan perasaan, bahwa kini kita bukan masyarakat onta, tetapimasyarakat kapal-udara. Hanya denganbegitulah kita dapat menangkap inti arti yang sebenarnya dari warisan Nabi yangmauludnya kita rayakan hari ini. Hanyadengan begitulah kita bisa menghormati Dia dalam arti penghormatan yangsehormat-hormatnya. Hanya dengan begitukita bisa sebenar-benarnya mengatakan bahwa kita adalah umat Muhammad bukanumatnya kaum faqih dan umatnya kaum ulama."

Pertanyaannya, bagaimana kita bisamendapatkan api dan intisari Islam? Itutidak bisa dilakukan dengan mengikuti Islam pada lahirnya sebagaimana dilakukankebanyakan faqih dan ulama. Tetapi kitaharus menghidupkan akal budi sekaligus rasa sejati, berfilsafat sekaligusbermetafisika, sehingga kita bisa menangkap makna bathin dari Kalam Allah danSunnah Rasulnya. Itulah yang disebut apiIslam oleh Soekarno! Dan berlandaskanapi Islam dan api dari Kristen Protestan, Katholik, Hindu, Budha, bahkanagama-agama lokal itu, ia dan para foundingfathers yang bijak menetapkan Indonesia sebagai negara kebangsaanberlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan negara agama atau negara Islam alakaum faqih dan para ulama.

Karena panggilan darah dan kesadaranyang bersemi di relung hati yang paling dalam, saya harus dengan jujurmengatakan, bahwa saya memilih mengikuti para leluhur yang agung di Tanah JawaKi Ageng Kebo Kenongo, Sultan Hadiwijaya, Panembahan Senopati, Sultan Agung,juga Raden Ronggowarsito dan KGPAA Mangkunegoro IV. Terlebih, pada kasus saya pribadi, lewat lakuprihatin dan rangkaian meditasi dalam bimbingan guru saya, saya seperti menjadiwadah atau media bagi jiwa-jiwa masa lalu khususnya Ki Ageng Kebo Kenongo,Raden Ronggowarsito dan KGPAA Mangkunegoro untuk bisa hadir kembali pada masakini. Saya tak bisa meninggalkankeislaman saya, karena Islam telah melekat demikian kuat di dalam diri sayasebagai buah pendidikan sejak kecil, juga karena saya ditakdirkan hidup dalamkeluarga dan komunitas Islam, dan yang paling penting: saya masih bisamenemukan dimensi Islam yang teramat mempesona seperti yang ditampilkan olehIbnu Arabi, Suhrawardi, Jalaluddin Rummi dan para mistikus hebat lainnya.

Pilihan menganut Islam Kejawen, di satusisi memang benar-benar buah sebuah perjalanan ruhani yang bersifat pribadi.Saya memilih Islam Kejawen karena itu yang membuat saya tenteram, damai,mantap, seiring dengan terhubungnya diri saya pada masa lalu. Selain itu, pilihan ini membuat saya seakanpunya energi memadai untuk mengundang kehidupan penuh berkah yang begitu sayadambakan. Di sisi lain, pilihan ini jugamerupakan sesuatu yang logis seiring munculnya kesadaran bahwa diri sayapribadi mesti berkontribusi untuk mencegah negara ini menjadi negara gagal –meminjam istilah Francis Fukuyama. Saatini, kita mengalami degradasi moralitas, krisis identitas, kerusakan sumberdaya alam, mewabahnya kemiskinan, merebaknya kekerasan termasuk yang kekerasanatas agama. Itu semua adalah pertandabahwa kita punya potensi menjadi negara gagal.Agar kekhawatiran itu tak terjadi, kita perlu melakukan upayarevolusioner, dan yang terpenting adalah di bidang kebudayaan. Pilihan saya terhadap Islam Kejawen adalahsimbol kembalinya saya pada ajaran leluhur, simbol kembalinya saya padajatidiri, pada fondasi kebudayaan yang kukuh.Ini, jika dilakukan dalam skala masif, adalah pencapaian penting yangbisa menjadi titik tolak bagi perbaikan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada segala aspeknya. Begitu dari segi kebudayaan kita mengalamirevolusi ke arah yang lebih baik - ketika budaya Indonesia mengalami restorasisebagaimana Restorasi Meiji hingga pada titik kembali pada jatidiri, makaperbaikan pada aspek politik dan ekonomi tinggal menunggu waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar