Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Oktober 2013

ISLAM KEJAWEN



Ajaran Kejawen bukanlah agama, melainkan sebuah falsafahhidup.

Karena itu, menganut danmenghayati ajaran ini, tidak mesti keluar dari agama yang semula dipeluk. Seorang Muslim yang juga menghayati AjaranKejawen, tetaplah seorang Muslim: Kejawen tak lebih dari sebuah sudut pandangatau kerangka dalam menafsirkan Islam.Dengan kata lain, seorang penganut Islam Kejawen, adalah tetap seorangMuslim yang memiliki berbagai kesamaan fundamental dengan Muslim lainnya diberbagai belahan penjuru dunia dalam hal keyakinan, sistem etika maupun praktekritual. Namun saat yang sama, iamemiliki perbedaan dalam hal citarasa keagamaan, dalam hal pandangan dunia dandalam penerapan nilai-nilai agama pada hidup keseharian, yang bertolak daripenghayatan terhadap kenyataan hidup dan kebudayaan yang melingkupinya, yangniscaya berbeda dengan Muslim di berbagai belahan dunia lainnya.

Cara berislam orang Jawa niscaya berbeda dengan caraberislam orang Badui Arab, sebagaimana berbeda pula dengan cara berislam orangIndia, Persia, Cina dan Eropa. Padakenyataannya, kebudayaan lokal – sebagaimana kepentingan politik sebuah rezim -tak bisa diabaikan dalam membangun budaya masyarakat Islam di berbagai belahandunia. Saya ingin membuat sebuahpembanding: bagaimana kebudayaan Persia menjadi titik tolak bagi kemunculansebuah cara berislam yang khas, berbeda dengan corak yang lazim berkembang ataumenjadi arus utama di Jazirah Arab.

Henry Corbin, dalam karyanya Imajinasi Kreatif SufismeIbnu Arabi yang diterbitkan Penerbis LKIS (judul aslinya L'Imagination creativedans le Soufism d"Ibn 'Arabi terbitan Princeton University Press New York),memaparkan apa yang telah dihasilkan oleh seorang jenius spiritual Persiabernama Syihabuddin Yahya Suhrawardi (1155-1191) sebagai berikut: "Meskipunhidupnya terputus begitu singkat, ia berhasil mewujudkan rencana sebuah rencanabesarm menghidupkan kembali kebijakan Persia kuno di Iran. Doktrinnya tentang cahaya dan kegelapan. Hasilnya adalah filsafat, atau tepatnyadengan mengambil istilah bahasa Arab dalam arti asal katanya, "teosofi cahaya"(hikmat al-isyraq) yang banyak kitatemukan persamaannya di halaman-halaman Ibnu Arabi. Dalam mewujudkan rencana besar ini Suhrawardimenyadari bahwa dirinya tengah mendirikan 'Kebijakan Timur' yang juga telahdicita-citakan Ibnu Sina dan yang pengetahuannya kelak akan sampai ke RogerBacon pada abad 13." Seperti apakahproduk pemikiran Suhrawardi yang diangkat dari kebijakan Persia kuno ini? Henry Corbin menjelaskan: "Salah satu ciriyang esensial adalah bahwa di dalamnya filsafat dan pengalaman mistik tidakbisa diceraikan; filsafat yang tidak berpuncak pada metafisika ekstase adalahspekulasi yang sia-sia, pengalaman mistik yang tidak dilandasi pengkajianfilsafat yang logis akan menghadapi bahaya kehinaan dan ketersesatan."

Secara lebih teknis, Suhrawardi berusaha melestarikan hakistimewa imajinasi sebagai organ dunia tengah, sekaligus melestarikanrealitas-realitas khusus peristiwa-peristiwa penampakan Ilahi yang melampauiapa yang bisa dicerap oleh panca indera.Dalam karya-karyanya, Suhrawardi menampilkan sebuah tema khas: pencariandan perjumpaan dengan Roh Kudus, akal aktif, Malaikat Pengetahuan, dan wahyu,yang kesemuanya itu berada di alamal-mi'tsal (dunia citra bayangan).

Apa yang dikerjakan oleh Suhrawardi, kemudian bertautandengan karya-karya besar Ibnu Arabi.Pemikiran kedua mistikus besar ini kemudian benar-benar bercampur baur, menjadilandasan bagi terbangunnya sebuah pandangan dunia Islam yang khas Iran. Ide dominan dari dua tokoh ini yang kemudiandilanjutkan oleh para tokoh Persia lainnya adalah mengenai keberadaan teofani(tajalli, Penampakan Tuhan) dalam bentuk manusia. Manusia ini adalah manusia yang telahmencapai tataran kesempurnaan: ia merupakan manifestasi dari Tuhan. Dalam doktrin Islam Syiah yang berkembang diIran, sosok manusia ideal sebagai manifestasi Tuhan ini dipahami sebagai paraimam suci keturunan Nabi Muhammad dari garis Imam Ali dan Fatimah.

Sementara menyangkut diri Ibnu Arabi sendiri, denganbertumpu pada metode beragama yang mengedepankan Imajinasi Kreatif sebagaiorgan untuk menangkap kebenaran sejati, ia masuk pada rangkaian pengalamanspiritual yang kaya: pertemuan dengan berbagai wujud tak kasat mata sepertiNabi Khidir, juga sosok gadis jelita Sophia Aeterna, dan akhirnya pencapaian berbagai pengetahuantanpa proses belajar yang lazim. Iamisalnya, bisa melahirkan karya monumental berjudul Fushus al-Hikam (MutiaraKebijaksanaan Para Nabi), berkat suatu penampakan (vision) dalam sebuah mimpipada tahun 627 H/1230 M. Dalam mimpi ituNabi Muhammad menampakkan diri kepada Ibnu Arabi sambil memegang kitab yangjudulnya beliau ucapkan sendiri dan beliaupun memerintahkan agar ajaran-ajarandi dalam kitab itu ditulis demi kemanfaatan yang lebih besar bagimurid-muridnya. Sementara karya hebatlainnya, Futuhat al-Makiyyah fi Ma'rifah al-Asrar al-Malikiyyah wa al-Mulkiyyah(Perihal Wahyu-wahyu yang Turun di Mekkah Mengenai Pengetahuan Raja danKekuasaan), disusun berdasarkan ilham dan visi yang membanjiri Ibnu Arabiketika berthawaf mengelilingi Ka'bah dan setelah bertemu dengan sosok gadisjelita bernama Sofia yang muncul dari kegelapan malam.

Lebih jauh bisa dijelaskan, melalui cara beragama yangmenekankan pentingnya pengalaman ruhani secara langsung dengan memanfaatkankeberadaan organ Imajinasi Kreatif, Suhrawardi, Ibnu Arabi dan para penerusnyakemudian memperkenalkan apa yang disebut dengan ta'wil, penafsiran bathin atauspiritual esoterik, terhadap ajaran-ajaran agama sebagaimana termaktub dalamKitab Suci maupun Hadits Nabi. Diyakinibahwa di makna lahiriahnya, ayat-ayat Al Qur'an mengandung makna bathin yanghanya bisa dilihat oleh mereka yang mata bathinnya atau Imajinasi Kreatifnyatelah teraktivasi melalui disiplin ruhani tertentu.

Cara pendekatan seperti ini, tentu saja berbeda dengancara beragama yang yang sangat dominan di kalangan Sunni yang berbasis diJazirah Arab dan mewarnai dunia Islam lainnya: yang pertama adalah kelompokyang cenderung menolak kesahihan pengalaman mistis sekaligus menolak filsafatsebagaimana ditampilkan mayoritas Ahli Hadits atau Ulama Fiqh, yang keduaadalah kelompok tasawuf yang memuliakan pengalaman mistis tapi mengabaikanfilsafat.

Dominasi kelompok tasawuf yang anti filsafat di kalanganSunni, merupakan andil sosok yang sangat berpengaruh: Imam Al-Ghozali yangdigelari Hujattul Islam. SeranganAl-Ghozali terhadap filsafat berperan melumpuhkan tradisi intelektual dikalangan Sunni. Sempat bangkit sesaat dimasa Ibnu Rusyid, tradisi intelektual ini kemudian hanya menjadi arus pinggiranyang dinikmati segelintir intelektual Sunni, hingga saat ini.

Sementara cara beragama yang legalistik, kering, bahkan padatitik tertentu membelengu potensi kemanusiaan yang menjadi tipikal mayoritasahli fikih dan ahli hadits, ironisnya justru mewabah di tempat asal muasalturunnya wahyu kepada Nabi Muhammad: Mekkah dan Madinah, yang berimbas padaJazirah Arab dan berbagai belahan dunia lainnya yang berkiblat kepadanya. Ini tak lepas dari kemenangan politikkelompok penerus Ibnu Taymiah yang anti-filsafat sekaligus anti-tasawuf. Kelompok ini menjadi dominan ketika Muhammadbin Abdul Wahhab yang berkoalisi dengan Dinasti Ibnu Suud, sukses menuaikemenangan politik dan lantas berkuasa di Arab Saudi hingga saat ini. Dan karena berada di jantung dunia Islam,pengaruhnya terhadap kawasan masyarakat Muslim lainnya jelas tak bisa diabaikan. Dengan jargon pemurnian Islam, kelompok inirelatif sukses meneguhkan hegemoninya di dunia Islam: corak Islam lain yangmengapresiasi tradisi lokal acapkali secara serampangan disebut sebagai bid'ahyang patut dihancurkan.

Sebetulnya, cara beragama yang legalistik dan keringitulah yang sempat dikhawatirkan oleh Sayyidina Ali menjangkiti umat Islam:

"Akan tiba waktunyabagi umatku, ketika tidak ada yang tersisa dari Al-Qur'an kecuali bentukluarnya dan tidak ada Islam kecuali namanya dan mereka akan memanggil dirimereka dengan nama tersebut walau mereka adalah umat yang paling jauh dari itu.Mesjid mereka akan penuh dengan jamaah tapi kosong dari petunjuk. Para pemimpinagama (fuqoha) masa itu merupakan para pemimpin agama paling jahat di bawahlangit, kemungkaran dan perselisihan akan muncul dari mereka dan kepada merekasemua itu akan dikembalikan."

(Sayyidina Ali dalam Bihar al-Anwar)

Itu pula yang dikritik oleh Fariduddin Attar, Sufi dariNishapur:

"Semua agama, seperti parateolog dan pengikut mereka memahami kata itu, adalah sesuatu yang lain dari apayang diperkirakan orang. Agama adalah sebuah kendaraan. Ekspresinya, ritualnya,moralnya, dan ajarannya yang lain dirancang untuk menimbulkan pengaruh tertentuyang memperbaiki, pada waktu tertentu, komunitas tertentu.

...agama dilembagakansebagai sebuah alat mendekati kebenaran. Bagi mereka yang berpikir dangkal,alat selalu menjadi tujuan, dan kendaraan menjadi berhala.

Hanya orang-orang yangbijak, bukan orang yang beragama atau berpengetahuan, yang dapat membuatkendaraan itu bergerak lagi."

Kembali pada Islam ala Jawa atau Islam Kejawen, jika kitamerujuk pada apa yang terjadi di Persia, jelas itu merupakan sebuah keniscayaanbahkan merupakan gejala yang sah. KetikaIslam hadir, Tanah Jawa ataupun Nusantara bukanlah padang tandus tanpaperadaban. Dalam beberapa hal, peradabandi kawasan ini telah demikian maju.Kejawen atau tradisi lokal Jawa yang telah diperkaya oleh KebudayaanHindu Budha dari India, merupakan sesuatu yang tak bisa dilupakan begitu sajaoleh manusia Jawa. Apalagi manusia Jawamemiliki memori kolektif bahwa dengan melandaskan kehidupan mereka pada budayaluhur sebagai hasil sintesa antara Kajewen dengan Hindu Budha, kejayaan politikdan kemakmuran ekonomi pernah dicapai, baik di masa Kerajaan Kutai, Sunda Galuhdan Pajajaran, Sriwijaya maupun Majapahit.

Sudah selayaknya, para cerdik pandai diTanah Jawa melanjutkan kebiasaan cerdas untuk mensintesiskan apa yang sudah ada(yaitu tradisi lokal) dengan apa yang baru hadir dan dipandang baik (termasukajaran Islam, baik yang dibawa oleh para mistikus Persia seperti SyeikhSubakir, maupun para pedagang Arab yang kemudian disebut sebagai parawali). Upaya sintesis antara Islam danKejawen ini, terutama dilakukan oleh raja-raja dan para pujangga dari kerajaanyang meneruskan tak hanya garis darah Majapahit tetapi juga sekaligus strategibudayanya: Pajang dan Mataram. SultanHadiwijaya, Panembahan Senopati, Sultan Agung, dan beberapa penerusnya, adalahsosok raja yang memanfaatkan kekuasaan politik mereka untuk melestarikan corakkeagamaan khas Tanah Jawa: agama yang dijawakan. Pada masa lalu, Hindu Budha telah dijawakansedemikian rupa sehingga Hindu Budha di Tanah Jawa dan Nusantara berbeda denganHindu Budha di negeri asalnya, India.Demikian pula, pada masa Pajang dan Mataram, Islam dijawakan sedemikianrupa sehingga jelas tak sama lagi citarasanya dengan Islam yang disampaikanoleh para pendakwahnya dari Persia maupun Jazirah Arab.

Lalu apa yang sebetulnya dimaksudkandengan menjawakan Islam? MenjawakanIslam artinya adalah menafsirkan Islam sesuai dengan tradisi mistik yang telahberkembang di Tanah Jawa, baik yang berangkat dari ajaran Kejawen asli maupunKejawen yang telah diperkaya dengan Hindu dan Budha. Konsep-konsep Kejawen seperti rahsa sejati, sukma sejati, manunggalingkawula gusti, harmoni jagad alitjagad ageng, termasuk ritual-ritual masyarakat Jawa seperti slametan, dipergunakan sebagai instrumenuntuk membumikan nilai-nilai universal Islam dalam kehidupan sehari-harimanusia Jawa. Cara pandang Kejawenmengenai hakikat dan struktur ruhani manusia, asal muasal dan tujuan kehidupan,hubungan antara wadah dan isi dan pemahaman bahwa isi lebih penting ketimbangwadah, dan berbagai konsep lainnya, melandasi tindakan orang Jawa dalammenafsirkan Islam. Secara keseluruhan,kita bisa melihat bahwa Islam Kejawen adalah sebuah sistem keagamaan yangmengedepankan dimensi mistik, sangat menghargai pengalaman ruhani, dan meyakinibahwa instrumen terpenting dalam menangkap kebenaran adalah rahsa sejati, yangbisa disejajarkan dengan intuisi, dzaukataupun Imajinasi Kreatif. Akal budiatau fakultas rasional, tentu saja tidak diabaikan, tetapi dianggap bukansebagai instrumen yang paling akurat karena ia memiliki keterbatasan: akal buditidak bisa menembus alam kasunyatan yang dalam khazanah Ibnu Arabi disebutdengan alam al-mitsal.

Kita bisa melihat, bahwa dengan corakdemikian, Islam Kejawen lebih dekat dengan corak Islam ala Persia sebagaimanadikembangkan oleh Suhrawardi dan Ibnu Arabi.Dan saat yang sama, berbeda cukup serius dengan Islam ala Timur Tengah,khususnya yang berorientasi pada purifikasi dan terpengaruh kuat oleh ajaranIbnu Taymiah dan Muhammad bin Abdul Wahab.Di Tanah Jawa sendiri, ketegangan antara Islam Kejawen dan Islam alaTimur Tengah ini muncul baik dalam dinamika politik berupa pergulatan antaraKesultanan Demak dengan Kerajaan Pajang dan Mataram, berbagai fragmenpenghukuman tokoh-tokoh mistik yang dianggap sesat seperti Syeikh Siti Jenar,Ki Ageng Kebo Kenongo, Syeikh Mutamakkin, juga dalam bentuk perdebatanintelektual antara para pujangga dan mistikus Islam Kejawen seperti RadenRonggo Warsito dan KGPAA Mangkunegoro IV dengan para lawannya. Pada masa Indonesia modern, perdebatan bahkanpergulatan antara Islam Kejawen dan Islam ala Timur Tengah ini tampak denganjelas pada masa pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalangan yang mengedepankan dimensi mistisIslam yang diujungtombaki Presiden RI pertama Soekarno, berhasil menancapkan rancangannegara ini lebih sebagai negara spiritualis tapi bukan negara agama, melaluipenetapan Pancasila yang memiliki sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa sebagaidasar negara. Konsep negara spiritualisini yang sebetulnya bisa menyatukan berbagai kalangan termasuk kalangannon-Muslim dari berbagai daerah di Indonesia.Tanpa itu, sulit dibayangkan negara ini bisa meraih kemerdekaannya,karena tak ada kemerdekaan tanpa persatuan.

Dalam karya monumentalnya Di BawahBendera Revolusi, Soekarno menulis penuh semangat:

"Islam is progress – Islam itukemajuan, begitulah telah saya tuliskan di dalam satu surat yangterdahulu. Kemajuan karena fardhu,kemajuan karena sunnah, tetapi juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkanoleh djaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batas-batasnya. Progress berarti barang yang baru, yang lebihtinggi tingkatannya daripada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, ciptaanbaru, creation baru – bukan mengulang barang yang dulu, bukan mengcopy barangyang lama. Di dalam politik, Islampun orang tidak boleh meng-copy saja barang-barang yang lama, tidak boleh maumengulang saja segala sistem-sistemnya jaman kalifah-kalifah yang besar. Kenapa orang-orang Islam di sini selamanyamenganjurkan political system seperti di jamannya khalifah-khalifah besaritu? Tidakkah di dalam langkahnya zamanyang lebih dari seribu tahun itu perikemanusiaan mendapatkan sistem-sistem baruyang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatannya ketimbang dulu? Tidakkah zaman sendiri menjelmakansistem-sistem baru yang cocok dengan keperluannya – cocok dengan keperluanzaman itu sendiri? Apinya zamankhalifah-khalifah yang besar itu? Ah,lupakah kita bahwa api ini bukan mereka yang menemukan, bukan mereka yangmenganggitkan? Bahwa mereka mengambilsaja api itu dari barang yang juga kita di zaman sekarang mempunyainya, yaknidari Kalam Allah dan Sunnahnya Rasul?

Tetapi apa yang kita ambildari Kalam Allah dan Sunnahnya Rasul itu?Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan!Abunya, debunya, ah, ya, asapnya!Abunya yang berupa celak mata dan sorban, abunya yang mencintai kemenyandan tunggangan onta, abunya yang bersifat Islam-muluk dan Islamibadat-zonder-taqwa, abunya yang tahu cuma baca Fatihah dan tahlil saja –tetapi bukan apinya yang menyala-nyala dari ujung jaman yang satu ke ujungzaman yang lain.

Begitulah saya punya seruandari Endeh. Mari kita camkan di dalamkita punya akal dan perasaan, bahwa kini kita bukan masyarakat onta, tetapimasyarakat kapal-udara. Hanya denganbegitulah kita dapat menangkap inti arti yang sebenarnya dari warisan Nabi yangmauludnya kita rayakan hari ini. Hanyadengan begitulah kita bisa menghormati Dia dalam arti penghormatan yangsehormat-hormatnya. Hanya dengan begitukita bisa sebenar-benarnya mengatakan bahwa kita adalah umat Muhammad bukanumatnya kaum faqih dan umatnya kaum ulama."

Pertanyaannya, bagaimana kita bisamendapatkan api dan intisari Islam? Itutidak bisa dilakukan dengan mengikuti Islam pada lahirnya sebagaimana dilakukankebanyakan faqih dan ulama. Tetapi kitaharus menghidupkan akal budi sekaligus rasa sejati, berfilsafat sekaligusbermetafisika, sehingga kita bisa menangkap makna bathin dari Kalam Allah danSunnah Rasulnya. Itulah yang disebut apiIslam oleh Soekarno! Dan berlandaskanapi Islam dan api dari Kristen Protestan, Katholik, Hindu, Budha, bahkanagama-agama lokal itu, ia dan para foundingfathers yang bijak menetapkan Indonesia sebagai negara kebangsaanberlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan negara agama atau negara Islam alakaum faqih dan para ulama.

Karena panggilan darah dan kesadaranyang bersemi di relung hati yang paling dalam, saya harus dengan jujurmengatakan, bahwa saya memilih mengikuti para leluhur yang agung di Tanah JawaKi Ageng Kebo Kenongo, Sultan Hadiwijaya, Panembahan Senopati, Sultan Agung,juga Raden Ronggowarsito dan KGPAA Mangkunegoro IV. Terlebih, pada kasus saya pribadi, lewat lakuprihatin dan rangkaian meditasi dalam bimbingan guru saya, saya seperti menjadiwadah atau media bagi jiwa-jiwa masa lalu khususnya Ki Ageng Kebo Kenongo,Raden Ronggowarsito dan KGPAA Mangkunegoro untuk bisa hadir kembali pada masakini. Saya tak bisa meninggalkankeislaman saya, karena Islam telah melekat demikian kuat di dalam diri sayasebagai buah pendidikan sejak kecil, juga karena saya ditakdirkan hidup dalamkeluarga dan komunitas Islam, dan yang paling penting: saya masih bisamenemukan dimensi Islam yang teramat mempesona seperti yang ditampilkan olehIbnu Arabi, Suhrawardi, Jalaluddin Rummi dan para mistikus hebat lainnya.

Pilihan menganut Islam Kejawen, di satusisi memang benar-benar buah sebuah perjalanan ruhani yang bersifat pribadi.Saya memilih Islam Kejawen karena itu yang membuat saya tenteram, damai,mantap, seiring dengan terhubungnya diri saya pada masa lalu. Selain itu, pilihan ini membuat saya seakanpunya energi memadai untuk mengundang kehidupan penuh berkah yang begitu sayadambakan. Di sisi lain, pilihan ini jugamerupakan sesuatu yang logis seiring munculnya kesadaran bahwa diri sayapribadi mesti berkontribusi untuk mencegah negara ini menjadi negara gagal –meminjam istilah Francis Fukuyama. Saatini, kita mengalami degradasi moralitas, krisis identitas, kerusakan sumberdaya alam, mewabahnya kemiskinan, merebaknya kekerasan termasuk yang kekerasanatas agama. Itu semua adalah pertandabahwa kita punya potensi menjadi negara gagal.Agar kekhawatiran itu tak terjadi, kita perlu melakukan upayarevolusioner, dan yang terpenting adalah di bidang kebudayaan. Pilihan saya terhadap Islam Kejawen adalahsimbol kembalinya saya pada ajaran leluhur, simbol kembalinya saya padajatidiri, pada fondasi kebudayaan yang kukuh.Ini, jika dilakukan dalam skala masif, adalah pencapaian penting yangbisa menjadi titik tolak bagi perbaikan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada segala aspeknya. Begitu dari segi kebudayaan kita mengalamirevolusi ke arah yang lebih baik - ketika budaya Indonesia mengalami restorasisebagaimana Restorasi Meiji hingga pada titik kembali pada jatidiri, makaperbaikan pada aspek politik dan ekonomi tinggal menunggu waktu.

Kota yang Kental akan Budaya Jawa


Kota yang Kental akan Budaya Jawa

YOGYAKARTA
Artikel ini akan mengenalkan tentang Yogyakarta.Ini lah deskripsi singkat tentang Yogyakarta.Jogjakarta/Yogyakarta sapaan akrab provinsi penuh budaya yang satu ini.Budaya jawa masih sangat kental di provinsi ini.Kota Pelajar&Kota Gudeg adalah julukannya.Kepala Pemerintah Provinsi Yogyakarta adalah Sri Sultan Hamangkubuwono X (Gubernur) dan Pakualam IX (Wakil Gubernur).Mari kita simak artikel budaya Kota Gudeg

Baju Daerah
Baju Daerah Yogyakarta adalah beskap dan kebaya.Beskap adalah pakaian tradisional yogyakarta untuk laki-laki sedangkan kebaya untuk perempuan.Beskap terdiri dari kain jarit batik khas Yogyakarta dan atasan yang menggantung ditambah hiasan pinggang jawa dan keris sebagai pelengkap dengan topi khas Yogya yang bernama Blangkon.Sedangkan untuk perempuan adalah kebaya.Kebaya terdiri dari kain jarit batik khas Yogyakarta dan atasan kebaya serta rambut yang di beri konde dengan hiasan tusuk konde sebagai pelengkap.Untuk lebih jelasnya bisa melihat gambar di atas.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tarian Daerah
Tarian Daerah Yogyakarta adalah Srimpi Tarian Srimpi diiringi dengan lantunan gamelan.
Rumah Adat

Rumah Adat Yogyakarta adalah Joglo.Joglo terbuat dari kayu jati.Di bagian dalam Joglo tepatnya di langit-langit joglo terdapat ukiran dari kayu berbentuk seperti di tumpuk-tumpuk bernama Tumpang Sari.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Adat Istiadat
Adat Jawa atau Yogyakarta untuk pernikahan biasanya diawali dengan Perempuan di pingit terlebih dahulu.Calon pengantin perempuan tidak boleh keluar rumah sekitar 1 minggu lamanya,setelah itu..saat melaksanakan perkawinan rumah orang tua wanita dihiasi tarub(hiasan tumbuhan) seperti daun pisang,buah pisang,daun pohon beringin,dan lain sebagainya.Ada juga Siraman yang mempunyai makna membersihkan jiwa dan raga,siraman itu adalah di siram dengan air bunga mawar oleh orang tua. Setelah itu ada adat sungkeman yang bertujuan untuk meminta maaf dan memohon doa restu.Ada juga upacara dahar kembul yaitu pasangan pengantin saling menyuapi lalu meminum teh manis.Ada juga hari jawa yaitu Pon,Wagen,kliwon,legi,pahing.Bulan Jawa pun ada juga Sapar,Mulud,Badha Mulud,Jumadhil awal,jumadhil akhir,rejeb,ruwah,puasa,sawal,dulkangidah,besar,sura.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bahasa Daerah
Bahasa Daerah Jawa adalah Bahasa Jawa,bahasa jawa terdiri dari Ngoko dan Krama.Krama ditujukan oleh orang yang lebih tua.Ngoko untuk ditujukan oleh orang yang seumuran.
Contoh kata-kata bahasa jawa ngoko:
Berangkat: Mangkat
Pulang: Bali
Makan:Mangan
Aku:Aku
Minum:Ngombe
Contoh kata-kata bahasa jawa krama:
Berangkat: Tindak
Pulang:Kondur
Makan:Dhahar
Aku:Kula
Minum:Ngunjuk
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Makanan Tradisional

Makanan tradisional Yogyakarta adalah Gudeg.Gudeg ternbuat dari gori,telur,tahu,areh,ayam,krecek.Dipadukan dengan nasi.Hingga saat ini gudeg masih dilestarikan dan bisa di cicipi oleh semua kalangan dari yang muda,tua,remaja,dan anak-anak
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tempat Wisata Yogyakarta

1.Pantai Pok Tunggal: Pantai berpasir putih ini masih asri.Ombaknya seperti menari-nari.karang-karangnya belum rusak dan belum ada listrik di sana.walaupun akses ke pantai tersebut agak susah.Dari Pantai Indrayanti maju sedikit nanti ada papan penunjuk yang dibuat oleh penduduk setempat.

2.Pantai Ngobaran: Di pantai ini terdapat pura hindu jawa.Tebing-tebing menambah keindahan pantai ini.Pasirnya putih.Untuk pergi ke pantainya harus menuruni tangga turun.Pantai ini seperti pantai blue point di bali.Ombaknya agak besar tetapi letak ombak nya jauh dari tepi pantai.

3.Pantai Ngerenahan: Di pantai ini terdapat pelabuhan nelayan tradisional dan tempat pelelangan ikan.Saat panen,nelayan dapat bermacam-macam ikan laut baik kecil maupun besar bahkan ada juga Lobster.Ikan laut di pantai ini patut di nikmati.

4.Kaliurang:Gunung Merapi yang masih aktif ini juga harus dikunjungi.Karena hawanya sejuk,cocok untuk berekreasi bersama keluarga dan beristirahat di akhir pekan.Di sana juga terdapat peninggalan erupsi merapi 2010.Jika ingin melihat monyet berkunjunglah ke Telaga Putri.

5.Kraton: Kraton adalah istana peninggalan Kerajaan Mataram.Yang disinggahi oleh sri sultan.Di Kraton kita bisa lebih mengenal budaya Yogyakarta.Di dekat kraton juga terdapat toko-toko kain batik tulis.

filosofi aksara jawa

filosofi aksara jawa


Huruf Jawa yang jumlahnya ada 20 huruf merupakan sabda pangandikanipun dari Tuhan Yang Maha Esa dan mempunyai makna yang sangat luar biasa di tanah Jawa.

Aksara Jawa

Mungkin akhir-akhir ini huruf Jawa sudah banyak ditinggalkan oleh generasi muda. Kenapa demikian?. Karena huruf Jawa merupakan simbul-simbul kehidupan di dunia dan akhirat. Terus siapa yang salah?. Mungkin hanya dipelajari di bangku sekolah di Desa, itupun bagaimana cara menulis huruf Jawa dengan menggunakan tambahan, pepet, layar, lungsi, suku dan wulu dsb., namun makna kandungan tidak pernah dibahas oleh sang Guru. Betul atau salah?. Ketika itu. Kalau tidak salah huruf Jawa juga digunakan oleh sang Dalang Ruwatan inipun masih digunakan sampai saat ini. Oleh para sesepuh dahulu dengan begitu lancar dan hafal dalam membaca huruf Jawa. Oleh Simbah dan Bapak Ibu ku mereka hanya bisa membaca dan tulis huruf Jawa secara lancar dan cepat. Timbul pertanyaan, terus siapa, bagaimana, kemana nasib huruf Jawa nantinya, ini tentunya menjadi PR bersama, mumpung Anda masih mau menuntut ilmu. Bak mengatakan, tuntutlah ilmu sejak ayunan sampai liang kubur walaupun sampai negeri Cinapun.

Maka dengan ini saya akan mencoba menyampaikan isi kandungan tentang hurup Jawa sebagai tambahan olah pikir kita bersama , yang saya ambil dari buku Falsafah Orang Jawa.

HA, berarti “Hidup” , berarti ada hidup, sebab hidup itu ada, karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup itu sendiri dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan . Hidup tersebut ada empat unsur yaitu : Api, Angin, Bumi, Air.

NA, “nur” atau cahaya, yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia.

CA, berarti “Cahaya” artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. Yakni salah satu sifat Tuhan yang pada manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifat-sifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik.

RA, bearti “Roh” yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia

KA, “Berkumpul” yakni berkumpulnya Tuhan YME yang juga terletak pada sifat manusia.

DA, “Zat’ ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia.

TA, “Tes” atau tetes, yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia.

SA, “Satu” Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu, jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan.

WA, “Wujud” atau bentuk, dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan YME, itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba sang Ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri.

LA, “Langgeng”, atau abadi, la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini, berarti abadi pula untuk selama-lamanya.

Pa, “Papan” atau tempat, yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini, jagad gede juga jagad kecil (manusia).

DHA, “Dhawuh”, yaitu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam, manusia yang utama.

JA, “Jasad” atau badan Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama.

YA, “Dawuh” Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas, karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-kata “Ya”.

NYA, “Pasrah” atau menyerahkan, Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini.

MA,”Marga” atau jalan, Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik.

GA, “Gaib” gaib Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia.

BA, “ Babar”, yaitu kabarnya manusia dari ghaibnya Tuhan YME.

THA, “Thukul”, atau tumbuh, Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhan YME. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas, dekat tetapi tidak dapat disentuh, seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh, dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut)

NGA, “ Ngalam” yang bersinar terang, atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang.

Demikianlah huruf Jawa 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri, karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME.

Penyatuan huruf :

Ha+Nga = berarti angan-angan panca indera yaitu Otak, Mata, Telinga, Hidup, Mulut.

Na+Ta = Nata berarti “nutuk”,

Ca+Ba = Coba, berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tempat yang dimilki lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu, adanya perkataan kun berarti pernyataan yang dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau.

Ra+Ga= Raga, berarti “badan awak/diri. Kata Raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama mengendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak.

Ka+Ma= berarti Kama, atau biji, bibit , benih. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup.

Da+Nya= Danya atau dunia. Persatuan jedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran, dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam). Dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkan ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia.

Ta+Ya= Taya, yaitu ari atau banyu. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan) karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil.

Sa+Ja= Saja (Siji) atau satu. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu, andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu.

Wa+Da= Wada atau wadah atau tempat. Berbicara tentang wadah atautempat, sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula, karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi, siapakah yang ada terlebih dahulu?.

Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu, baru kemudian isi, sebenarnya hal ini adalah kurang benar. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi, dan karena isi tersebut membutuhkan tempat menyimpanan maka diciptakan pula wadahnya. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “isi mencari wadah” karena memang “isi” diciptakan terlebih dahulu. Bisa juga dicontohkan rumah merupakan wadah manusia..

Sebagai bukti dari uraian di atas, dapatlah dijelaskan bahwa, kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). Bagai pendapat yang mengatakan”wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meninggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. Hal ini jelas tidak menungkin terjadi, apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimaana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya.

Demikian persoalan wadah ini dengan dunia, karena sebelum dunia ini diciptakan , maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME . Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awang-awung). Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi, yang berarti masing suwung atau kosong. Meskipun begitu,”hidup” itu tetap telah ada demikian pula “isi”, dan dimanakah letak isi tadi ialah pada Ayah dan Ibu. Maka selama Ayah dan Ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit.

La+Pa= Lapa, atau mati atau lampus. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak, keadaan hidup tersebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar, akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya, akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya. Hidup kembali kepada yang meniciptakan hidup, karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (Baca tentang Suwung disini awang-awung)

Jumat, 27 September 2013

MENELISIK RAHASIA FILSAFAT KEJAWEN

MENELISIK RAHASIA FILSAFAT KEJAWEN

(seri 1)

Dalam literatur dan kaidah kebudayaan Jawa tidak ditemukan adanya pakem dalam kalimah doa serta tata cara baku menyembah Tuhan. Dalam budaya Jawa dipahami bahwa Tuhan Maha Universal dan kekuasaanNya tiada terbatas. Pun dalam kejawen, karena bukan lah agama, maka dalam falsafah kejawen yang ada hanyalah wujud “laku spiritual” dalam tataran batiniahnya, dan “laku ritual” dalam tataran lahiriahnya. Laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari laku spiritual. Ambil contoh misalnya mantra, sesaji, laku sesirih (menghindari laku pantangan) serta laku semedi atau meditasi. Banyak kalangan yang tidak memahami asal usul dan makna dari semua itu, lantas begitu saja timbul suatu asumsi bahwa mantra sama halnya dengan doa. Sedangkan sesaji, laku sesirih dan laku semedi dipersepsikan sama maknanya dengan ritual menyembah Tuhan. Asumsi dan persepsi ini salah besar. Menurut para pengamat, kaum akademisi dan budayawan, ada suatu unsur kesengajaan untuk mempersepsikan dan mengasumsikan secara tidak tepat dan melenceng dari makna yang sesungguhnya. Semoga hal itu bukan termasuk upaya politisasi sistem kepercayaan, untuk mendestruksi budaya Jawa yang sudah “mbalung sungsum” di kalangan suku Jawa, dengan harapan supaya terjadi loncatan paradigma kearifan lokal kepada paradigma asing yang secara naratif menjamin surga. Awal dari penggeseran dilakukan oleh bangsa asing yang akan menjalankan praktik imperialisme dan kolonialisme di bumi nusantara sejak ratusan tahun silam. Baiklah, terlepas dari semua anggapan, asumsi maupun persepsi di atas ada baiknya dikemukakan wacana yang mampu mengembalikan persepsi dan asumsi terhadap ajaran kejawen sebagaimana makna yang sesungguhnya. Setidaknya, kejawen dapat menjadi monumen sejarah yang akan dikenang dan dikenal oleh generasi penerus bangsa ini. Agar menumbuhkan semangat berkarya dan nasionalisme di kalangan generasi muda. Di samping itu ada kebanggaan tersendiri, sekalipun zaman sekarang dianggap remeh namun setidaknya nenek moyang bangsa Indonesia pernah membuktikan kemampuan menghasilkan karya-karya agung bernilai tinggi.

MELURUSKAN MAKNA

Mantra tidaklah sama maknanya dengan doa. Bila doa merupakan permohonan kepada Tuhan YME, sedangkan mantra itu umpama menarik picu senapan yang bernama daya hidup. Daya hidup manusia pemberian Tuhan Yang Mahakuasa. Pemberian sesaji, laku sesirih (mencegah) dan laku semedi memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang benar, baik dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah “memayu hayuning bawana”. Daya kehidupan manusia menjadi faktor adanya aura magis (gelombang elektromagnetik) yang melingkupi badan manusia. Aura magis memiliki sifatnya masing-masing karena perbedaan esensi dari unsur-unsur yang membangun menjadi jasad manusia. Unsur-unsur tersebut berasal dari bumi, langit, cahya dan teja yang keadaannya selalu dinamis sepanjang masa. Untuk menjabarkan hubungan antara sifat-sifat dan esensi dari unsur-unsur jasad tersebut lahirlah ilmu Jawa yang bertujuan untuk menandai perbedaan aura magis berdasarkan weton dan wuku.

Aura magis dalam diri manusia dengan aura alam semesta terdapat kaitan erat. Yakni gelombang energi yang saling mempengaruhi secara kosmis-magis. Dinamika energi yang saling mempengaruhi mempunyai dua kemungkinan yakni pertama; bersifat saling berkaitan secara kohesif dan menyatu (sinergi) dalam wadah keharmonisan, kedua; energi yang saling tolak-menolak (adesif). Laku sesirih (meredam segala nafsu) dan semedi (olah batin) merupakan sebuah upaya harmonisasi dengan cara mensinergikan aura magis mikrokosmos dalam kehidupan manusia (inner world) dengan aurora alam semesta makrokosmos (lihat juga dalam posting “Sejatinya Guru Sejati”). Agar tercipta suatu hubungan transenden yang harmonis dalam dimensi vertikal (pancer) antara manusia dengan Tuhan dan hubungan horisontal yakni manusia sebagai jagad kecil dengan jagad besar alam semesta.

PRINSIP KESEIMBANGAN, KESELARASAN & HARMONISASI

Sesaji atau sajen jika dipandang dari perspektif agama Abrahamisme, kadang dianggap berkonotasi negatif, sebagai biang kemusyrikan (penyekutuan Tuhan). Tapi benarkah manusia menyekutukan dan menduakan Tuhan melalui upacara sesaji ini ? Seyogyanya jangan lah terjebak oleh keterbatasan akal-budi dan nafsu golek menange dewe (cari menangnya sendiri) dan golek benere dewe (cari benernya sendiri). Maksud sesaji sebenarnya merupakan suatu upaya harmonisasi, melalui jalan spiritual yang kreatif untuk menselaraskan dan menghubungkan antara daya aura magis manusia, dengan seluruh ciptaan Tuhan yang saling berdampingan di dunia ini, khususnya kekuatan alam maupun makhluk gaib. Dengan kata lain sesaji merupakan harmonisasi manusia dalam dimensi horisontal terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Harmonisasi diartikan sebagai kesadaran manusia. Sekalipun manusia dianggap (menganggap diri) sebagai makhluk paling mulia, namun tidak ada alasan untuk mentang-mentang merasa diri paling mulia di antara makhluk lainnya. Karena kemuliaan manusia tergantung dari cara memanfaatkan akal-budi dalam diri kita sendiri. Bila akal-budi digunakan untuk kejahatan, maka kemuliaan manusia menjadi bangkrut, masih lebih hina sekalipun dibanding dengan binatang paling hina.

HARMONI & KESELARASAN MERUPAKAN WAHYU TUHAN

Dalam konteks kebudayaan Jawa, wahyu diartikan sebagai sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu karunia Tuhan yang diperoleh manusia secara gaib. Wahyu juga tidak dapat dicari, tetapi hanya diberikan oleh Tuhan, sedangkan manusia hanya dapat melakukan upaya dengan melakukan mesu raga dan mesu jiwa dengan jalan tirakat, bersemadi, bertapa, maladihening, dan berbagai jalan lain yang berkonotasi melakukan laku batin. Tapi tidak setiap kegiatan laku batin itu akan mendapatkan wahyu, selain atas kehendak atau anugrah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan wahyu menurut kamus Purwadarminta mempunyai pengertian suatu petunjuk Tuhan atau ajaran Tuhan yang perwujudannya bisa dalam bentuk mimpi, ilham dan sebagainya. Dalam konteks budaya Jawa, wahyu dipandang sebagai anugrah Tuhan yang sekaligus membuktikan bahwa Tuhan bersifat universal, Mahaluas tanpa batas, dan Tuhan yang Mahakasih tidak akan melakukan pilih kasih dalam menorehkan wahyu bagi siapa saja yang Tuhan kehendaki. Falsafah Jawa memandang suatu makna terdalam dari sifat hakekat Tuhan yang Maha Adil, yang memiliki konsekuensi bahwa wahyu bukanlah hak atau monopoli suku, ras, golongan, atau bangsa tertentu.

Mekanisme kehidupan di alam semesta adalah bersifat dinamis. Dinamika kehidupan berada dalam pola hubungan yang mengikuti prinsip-prinsip keharmonisan, keseimbangan, atau keselarasan (sinergi) jagad raya seisinya. Dinamika dan pola hubungan demikian sudah menjadi hukum atau rumus Tuhan Yang Maha Memelihara sebagai ANUGRAH terindah kepada semua wujud ciptaanNYA, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa.

WAHYU PURBA

Anugrah tersebut dalam terminologi Kejawen dikenal istilah Wahyu Purba. Kata Purba, menurut kamus Purwadarminta mempunyai arti memelihara. Wahyu Purba mempunyai pengertian, Dewa Wisnu atau sama hakekatnya dengan kebenaran Illahiah, adalah bersifat memelihara. Ini suatu pelajaran hidup yang mengandung “rumus Tuhan” bahwa di dalam kehidupan alam semesta dengan segala isinya termasuk juga manusia, semua dipelihara oleh kebenaran sejati, yakni kebenaran Illahi. Di mana kehidupan alam semesta dan manusia akan mengalami keselarasan, keselamatan, ketenteraman, kebahagiaan dan kesejahteraan apabila nilai kebenaran bisa dihayati dan ditegakkan dengan baik dan benar.

Walaupun manusia percaya bahwa hidup ini dipelihara oleh kebenaran Illahi atau kebenaran Tuhan, masih juga terdapat ketidakbenaran dan kejahatan yang dapat menimbulkan kekacauan dan mengganggu keselarasan, kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan. Semua itu terjadi sebagai akibat “kenekadan” manusia melakukan pelanggaran hukum kebenaran. Untuk memelihara ketenteraman dan kesejahteraan dunia maka dewa Wisnu turun ke dunia menitis pada Prabu Arjunawijaya (Arjunasasrabahu) raja Negara Maespati, dan kepada Ramawijaya, raja Negara Ayodya.

WAHYU DYATMIKA

Barang siapa yang berhasil membangun harmonisasi dan sinergi atau keselarasan energi antara “jagad kecil” yang ada di dalam diri pribadi (inner world) dengan “jagad raya” disebut sebagai orang yang sudah memperoleh wahyu dyatmika. Dyatmika berarti batin, atau hati, wahyu dyatmika artinya wahyu Tuhan yang diterima seseorang untuk memiliki daya linuwih meliputi daya cipta, daya rasa, dan daya karsa yang disebut sebagai prana. Prana dalam terminologi Jawa berbeda dengan perguruan tenaga prana sebagaimana dikenal masyarakat sebagai seni bela diri dan olah tenaga dalam.

HUBUNGAN MANTRA DENGAN PRINSIP KESELARASAN

Mantra adalah Teknologi Kuno

Perlu kami tegaskan lagi bahwa mantra BUKANLAH DOA, akan tetapi merupakan sejenis SENJATA atau ALAT berujud kata-kata atau kalimat sebagai “teknologi spiritual” tingkat tinggi hasil karya leluhur nusantara di masa silam. Mantra dibuat melalui tahapan spiritual yang tidak mudah, bentuknya laku prihatin, perilaku utama dan maneges kepada Tuhan, yang ditempuh dengan cara tidak ringan. Hasilnya beragam, secara garis besar ada dua jenis mantra (baca; senjata) yakni;

1. Khusus menurut fungsinya; hanya dapat digunakan untuk keperluan tertentu misalnya menaklukkan musuh di medan perang. Atau diperuntukkan sebagai alat “medis” sebagai mantra untuk penyembuhan.

2. Mantra khusus menurut sifatnya; dibagi dua; pertama, mantra yang hanya dapat BEKERJA jika digunakan untuk hal-hal sifatnya baik saja. Mantra jenis ini tidak dapat disalahgunakan untuk hal-hal buruk oleh si pemakai. Mantra jenis ini paling sering digunakan di lingkungan kraton sebagai salah satu tradisi turun temurun. Kedua; mantra yang bersifat umum, bebas digunakan untuk acara dan keperluan apa saja tergantung kemauan si pemakai. Ibarat pisau dapat digunakan sebagai alat bedah operasi, alat memasak, atau disalahgunakan untuk mencelakai orang. Namun mantra jenis ini setiap penyalahgunaannya pasti memiliki konsekuensi yang berat berupa karma atau hukuman Tuhan yang dirasakan langsung maupun kelak setelah ajal.

Citra Buruk Karena Pemahaman Yang Salah Kaprah

Terdapat pula kesalahan memaknai mantra secara simpang siur; di mana mantra dianggap sebagai hal yang selalu berhubungan dengan setan/makhluk halus dan bersifat negatif/hitam. Misalnya lafald komat-kamit yang diucapkan seorang dukun santet, itu bukanlah sejenis mantra, namun password atau kata kunci, atau kode isyarat berupa kata-kata untuk memanggil sekutunya yakni sejenis jin, “setan” atau makhluk gaib sebagai pesuruh agar mencelakai korbannya. Perlu saya luruskan bahwa yang demikian ini, bukan termasuk mantra. Lalu apakah substansi dari mantra itu sendiri ? Baiklah, berikut ini kami berusaha mendeskripsikan kronologi dan proses bagaimana mantra (teknologi kuno) dapat diciptakan oleh manusia zaman dulu yang banyak dicap menganut faham religi primitif.

Hamemayu Hayuning Bawono & RAT, serta Pangruwating Diyu

Di atas telah kami singgung sedikit mengenai PRANA, sebagai sinergisme dan harmonisasi energi vertikal-horisontal, mikro-makro kosmos, inner wolrd dengan alam semesta, jagad kecil dengan jagad besar. Mantra merupakan salah satu bentuk pendayagunaan prana. Khusus untuk mantra umum, agar supaya siapapun yang memanfaatkan mantra umum tidak menyalahgunakannya untuk hal-hal yang negatif, ajaran Jawa menekankan keharusan eling dan waspada. Sikap eling dan waspada akan memelihara seseorang dalam mendayagunakan prana yang berwujud mantra yang dimanfaatkan untuk kebaikan hidup bersama menggapai ketentraman dan kesejahteraan. Yang paling utama bilamana semua jenis mantra ditujukan sebagai upaya untuk keselarasan dan harmonisasi alam semesta dalam dimensi horisontal dan vertikal dengan Yang Transenden. Mantra adalah salah satu bentuk pencapaian dalam pergumulan laku spiritual “Sastra Jendra” sedangkan tujuannya yang mulia menjadi makna di balik “Hamemayu hayuning Rat, hamemayu hayuning bawono, lan pangruwating diyu” (lihat posting; “Puncak Ilmu Kejawen”). Menjadi satu kalimat dalam falsafah Jawa tingkat tinggi yakni “Sastra jendra, hayuning Rat, pangruwating diyu”. Yang tidak lain untuk menyebut pencapaian spiritual dalam konteks kemanunggalan diri dengan alam semesta (Hamemayu hayuning Bawono). Dalam rangka panembahan pribadi dimanifestasikan budi pekerti luhur (Hangawula kawulaning Gusti/Pangruwating diyu), keduanya BERPANGKAL dan BERUJUNG pada panembahan kepada Tuhan Yang Maha Tunggal (Hamemayu hayuning Rat). Dengan kata lain budi pekerti membangun dua dimensi jagad, yakni; jagad kecil (pribadi) dan jagad besar manembah kepada Tuhan YME.

Bentuk panembahan dalam pada tingkat tata lahir (sembah raga/syariat) dimanifestasikan dalam berbagai kearifan budaya yang menampilkan berbagai keindahan tradisi misalnya; upacara ruwat bumi seperti garebeg, suran, nyadranan, apitan dan sebagainya. Atau berbagai upacara kidungan, ritual gamelan, bedhaya ketawang, dan seterusnya. Intinya adalah rasa kebersamaan dalam manembah pada tingkat tata batin (sembah jiwa), menyatukan kekuatan hidup atau prana kehidupan untuk mewujudkan mantra-agung (mahamantra) yakni sastra jendra yang berfungsi membangun keseimbangan (balancing) dan keselarasan (harmonic) antara aura spiritual manunsia dengan aura spiritual jagad raya seisinya. Tujuan utama dari balancing dan harmonic jelas sekali jauh dari tuduhan subyektif musrik maupun bid’ah, jelas ia sebagai bentuk konkritisasi doa untuk mohon keselamatan bagi alam semesta dan seluruh isinya.

Sayang sekali, zaman semakin berubah, perilaku budi daya yang memiliki nilai kearifan (wisdom) yang tinggi, telah banyak ditinggalkan orang Jawa sendiri. Alasannya demi mikul duwur mendhem jero falsafah dan budaya asing. Atau takut oleh tuduhan-tuduhan subyektif, yang hanya berdasar prasangka buruk (su’udhon), dan tidak berdasarkan metode ilmiah maupun informasi lengkap dan jelas. Sebuah nasib yang tragis ! Tradisi yang masih dapat dijalankan pun akhirnya hilang nilai kesakralannya. Grebeg, suran, sadranan, apitan telah melenceng dari nilai luhur yang sesungguhnya yakni menyatukan prana kehidupan. Sebaliknya tradisi tersebut hanya sekedar menjadi tontonan murahan, menjadi kebiasaan yang diulang-ulang (custom), pemerintah melestarikan tardisi hanya karena bermotif materialistis laku dijual, dan menjadi daya tarik turis asing karena mungkin dianggap aneh dan lucu saja. Seaneh dan selucu cara bangsa ini memandang dan memahaminya.

Itulah, wujud “sejati” wong Jawa kang kajawan (ilang jawane), rib-iriban. Manusia telah menjadi seteru Tuhan, karena telah melanggar rumus (hukum) kodratulah, yakni harmonisasi dan keseimbangan alam semesta. Rusaknya prinsip keseimbangan alam semesta berakibat fatal dan kini dapat kita rasakan dan saksikan sendiri; hujan salah musim, jadwal musim kemarau-penghujan tidak disiplin, kekeringan, kebakaran, banjir, tanah longsor, elevasi suhu bumi, distorsi cuaca, hutan gundul, sungai banyak kering, satwa liar semakin langka dan mengalami kepunahan. Distorsi musim mengakibatkan gagal panen, hama tanaman, wabah penyakit aneh-aneh (pagebluk), serangan hawa panas dan hawa dingin secara ekstrim (el-nino & la-nina).

Frequently Asked Questions (FAQ)…??!!

Lantas…di mana sih peran agama (ku), peran ajaran, budi daya, katanya kita berada di dalam bangsa yang agamis, budaya yang luhur, penuh ajaran spiritual, peran ilmu pengetahuan, teknologi tinggi. Cukupkah aku hanya berdoa dan berzikir di mulut saja, sambil berharap-harap Tuhan bersedia merubah nasib bangsa ini ??? Atau jangan-jangan aku terlalu sibuk saban hari berpamrih menghitung-hitung pahala ??? MASIH KURANGKAH TUHAN MEMBERI ANUGRAH kepada ku ??? Kapan aku mau bersyukur ? Teramat pentingkah aku bersukur HANYA di mulut saja dengan ucapan 100 kali, 1000 kali, bahkan 1.000.000 kali ? Atau aku mau enaknya saja tanpa susah-susah mewujudkan syukur dalam perbuatan nyata ? NURANI ku sendiri yang tahu jawabnya.

MELURUSKAN MAKNA MISTIK

MELURUSKAN MAKNA MISTIK

pada dasarnya, manusia adalah makhluk mistik

Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern, westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti akekatnya, dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu (kesadaran “kulit”). Manakala mendengar istilah mistik, akan timbul konotasi negatif. Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan, terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit. Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat. Selama puluhan tahun, kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism, westernisme dan agamisme. Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit, irasional, dan primitive. Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum agamisme sebagai paham sesat dan sumber kemusrikan. Pandangan itu salah besar, jika tidak mau disebut sebagai fitnah keji !

Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah. Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri, kepentingan rezim, dan kepentingan egoisme (keakuan). Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan, diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan, ela-elu, dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah mistis yang sesungguhnya. Untuk itu, perlulah kiranya saya ingin berbagi kepada para pembaca yang budiman, mengenai makna yang sejatinya akan istilah mistis. Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana, selalu hati-hati terutama dalam menilai seseorang atau suatu kelompok, golongan dan cara pandang masyarakat tertentu. Jika perilaku hidup dan pola piker kita tidak eling dan waspada, kita akan melebur ke dalam roda “wolak-waliking jaman” di mana orang salah akan berlagak selalu benar. Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh. Emas dianggap Loyang (besi). Besi dikira emas. Burung bangau dianggap dandang (alat menanak nasi). Yang asli dianggap palsu, yang palsu dibilang asli. Semua serba salah kaprah, kacau-balau, chaos, dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.

Eksistensi Mistik

Mistik dapat dipahami sebagai eksistensi tertinggi kesadaran manusia, di mana ragam perbedaan (“kulit”) akan lenyap, eksistensi melebur ke dalam kesatuan mutlak hal ikhwal, nilai universalitas, alam kesejatian hidup, atau ketiadaan. Kesadaran tertinggi ini terletak di dalam batin atau rohaniah, mempengaruhi perilaku batiniah (bawa) seseorang, dan selanjutnya mewarnai pola pikir nya. Atau sebaliknya, pola pikir telah dijiwai oleh nilai mistisisme yakni eksistensi kesadaran batin.

Meskipun demikian, eksistensi mistik yang sesungguhnya tidaklah berhendi pada perilaku batin (bawa) saja, lebih utama adalah perilaku jasad (solah). Artinya, mistik bukanlah sekedar teori namun lebih kearah manifestasi atau mempraktikkan perilaku batin ke dalam aktivitas hidup sehari-harinya dalam berhubungan dengan sesama manusa dan makhluk lainnya. Apakah anda ingin menjadi seorang agamis, yang hanya terpaku pada simbol-simbol agama berupa penampilan fisik, jenis pakaian, cara bicara, bahasa, gerak-gerik, bau minyak wanginya. Agamis hanya kenyang teori-teori agama atau dalil-dalilnya saja. Ataukah sebaliknya anda ingin menjadi seorang praktisi (penghayat) akan teori-teori tersebut sehingga tidak omong doang. Hal itu menjadi hak setiap orang untuk memilih, masing-masing akan membawa dampak yang berbeda-beda.

Dalam menjabarkan istilah mistik, saya sangat sepakat dengan guru besar Filsafat UGM Prof. Dr. Damarjati Supadjar, bahwa cirri-ciri mistikisme adalah sbb ;

1. Mistisisme adalah persoalan praktek.

2. Secara keseluruhan, mistisisme adalah aktifitas spiritual.

3. Jalan dan metode mistisisme adalah cinta kasih sayang.

4. Mistisisme menghasilkan pengalaman psikologis yang nyata.

5. Mistisisme sejati tidak mementingkan diri sendiri.

Jika kita cermati dari kelima ciri mistikisme di atas dapat ditarik benang merah bahwa mistik berbeda dengan sikap klenik, gugon tuhon, bodoh, puritan, irasional. Sebaliknya mistik merupakan tindakan atau perbuatan yang adiluhung, penuh keindahan, atas dasar dorongan dari budi pekerti luhur atau akhlak mulia. Mistik sarat akan pengalaman-pengalaman spiritual. Yakni bentuk pengalaman-pengalaman halus, terjadi sinkronisasi antara logika rasio dengan “logika” batin. Pelaku mistik dapat memahami noumena atau eksistensi di luar diri (gaib) sebagai kenyataan yang logis atau masuk akal. Sebab akal telah mendapat informasi secara runtut, juga memahami rumus-rumus yang terjadi di alam gaib. Sebagai contoh ;

Kenapa simpanan uang di Bank tidak ada yang hilang di curi makhluk pesugihan ? Atau perhiasan emas di toko emas tidak bias hilang digondol sejenis jin atau pun siluman pesugihan ?

Secara logis-rasional, makhluk pesugihan yang sering mencuri uang atau perhiasan di rumah-rumah penduduk seharusnya bias mencuri uang dan perhiasan di kedua tempat tersebut. Namun kenyataannya kedua jenis harta kekayaan tersebut tidak bias dicuri oleh makluk gaib sejenis pesugihan manapun. Hal ini dikarenakan terdapat rumus di alam gaib yang berbeda dari dimensi bumi. Pada kesempatan selanjutnya saya akan bahas mengenai sebagian rumus-rumus di alam gaib (hukum di alam gaib) yang sejauh ini bisa saya ketahui, pernah saksikan dan buktikan dengan mata kepala sendiri.

Agama sebagai sarana menggapai tataran spiritual. Sementara spiritual adalah kesadaran tinggi akan nilai-nilai transenden atau ketuhanan. Mistisisme adalah wujud kesadaran itu dalam laku perbuatan konkrit. Dengan adanya kesadaran yang cukup memadai akan bagaimana sesungguhnya yang terjadi di alam gaib hal itu membuka pola pikir kita sehingga mampu memahami noumena kegaiban secara logis. Hal ini menjadikan para pelaku spiritual memiliki kemantapan tidak hanya sekedar yakin, tetapi dapat dikatakan bisa menyaksikan sendiri bagaimana “rumus-rumus halus” akan bekerja. Antara pengetahuan spiritual dengan tindakan nyata seiring dan seirama. Bagaikan lirik dengan syairnya. Aransemen dengan nada-nada musicnya. Sastra dengan gendhingnya. Sinergis dan harmonis, antara pengetahuan spiritual dengan perbuatannya. Menjadikan para pelaku spiritual sejati justru terkesan lebih santun dan memiliki sense on humanity yang tinggi, memiliki kepekaan social, solidaritas dan toleransi, kepedulian lingkungan social dan alam yang sangat mendalam. Perilaku-perilaku yang menunjukkan sikap arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan ini ketimbang orang-orang bergaya “agamisme” (kesadaran symbolic) yang terkadang perilakunya lepas kendali, sewenang-wenang dan beringas, emosional dan reaksional. Karena merasa diri menjadi sangat kuat telah menjadi orang yang memegang hak istimewa (privilege) di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Penjelasan singkat mengenai arti harfiah dan maknawiah tentang mistik, dapat diambil benang merah bahwa mistik Kejawen adalah laku spiritual berdasarkan pandangan hidup atau falsafah hidup Jawa. Atau disebut jawaisme (javanism). Yang paling utama dalam laku spiritual Jawa, adalah perilaku didasari oleh cinta kasih dan pengalaman nyata. Maka, bagi siapapun yang mengaku menghayati falsafah hidup Jawa namun perangainya masih mudah terbawa api emosi, angkara murka, reaksioner, sektarian, dan primordialisme, kiranya belum memahami secara baik apa itu nilai-nilai dalam falsafah hidup Kejawen. Mistik kejawen merupakan bagian dari ribuan mistik yang ada di bumi ini. Setiap masyarakat, bangsa dan budaya biasanya memiliki nilai-nilai tradisi mistik yang dipegang teguh sebagai pedoman hidup. Sekedar contoh, misalnya mistik Islam, dikenal dengan tradisi tasawuf, orang-orang yang mendalami disebut orang-orang zuhud, dan para sufistik. Mistik Budha atau Budhisme, mistik Hindu atau Hinduisme, dan masih terdapat ratusan bahkan ribuan lagi banyaknya mistik-mistik di dunia ini.

Mistik lebih fleksibel jika dibandingkan dengan agama, sebab mistik tidak mempersoalkan apa latar belakang ajaran, agama, budaya orang yang ingin menghayati. Hal itu tidak menimbulkan resiko terjadinya benturan nilai-nilai, karena dalam tradisi mistik yang sesungguhnya, keberagaman “kulit” akan dikupas, lalu mengambil sisi maknawiahnya yang bersifat hakekat atau esensial. Orang Jawa, Hindu, Kristen dan Budha, bias saja mempelajari ilmu tasawuf. Demikian pula sebaliknya, umat Islam bias pula mempelajari falsafah hidup Jawa. Hanya saja, kecenderungan kekuasaan rezim agama akan membuat batasan-batasan tegas kepada para penghayat mistik dengan mistik itu sendiri. Bahkan sering terjadi prejudis, pencitraan secara subyektif, dan punishment yang berdasarkan kepentingan rezim. Jangankan terhdap lintas budaya dan agama, kita ambil contoh sederhana saja misalnya, sebagian umat Islam melarang sesame umat Islam lainnya masuk ke dalam wilayah mistik Islam. Pelarangan dilakukan dengan dalih agama pula, sehingga pelarangan seringkali bekerja secara efektif membelenggu dinamika kesadaran umat. Yang terjadi adalah umat yang terkesan “agamis” tetapi sangat miskin pencapaian spiritualnya.

Hal Yang Berbeda Dalam Mistik Kejawen

1. Kejawen tentu saja tidak memiliki kitab suci sebagaimana layaknya semua agama-agama yang ada. Karena Kejawen bukanlah agama melainkan pandangan hidup yang sudah turun temurun ribuan tahun, melalui proses interaksi antara manusia (jagad kecil/mikrokosmos) dengan jagad raya (jagad besar/makrokosmos). Manusia dapat membaca rumus-rumus serta hukum alam yang ada dan berlaku meliputi tata kosmos. Pengetahuan akan rumus-rumus dan hukum alam lama kelamaan mengkristal menjadi tatanan nilai kehidupan manusia dalam berhubungan dengan lingkungan alam dan seluruh makhluk. Nilai yang menghasilkan kebijaksanaan. Disebut juga nilai kearifan lokal atau local wisdom. Sebab itu “kitab suci” bagi spiritual Jawa adalah rangkaian tata kosmo yang penuh dengan pola keseimbangan dan keselarsan yang harmonis. Semua itu dapat dibaca dan dilihat melalui bahasa alam. Lazimnya disebut sebagai SASTRA JENDRA, atau segala kejadian dan peristiwa alamiah yang didalamnya memuat hukum sebab akibat yang merupakan ketentuan alamiah. Hukum sebab akibat dan ketentuan alamiah yang berlaku di jagad raya ini lazimnya disebut hukum alam, atau kodrat alam yang dapat menjadi barometer dan petunjuk hidup bagi manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain itu, Kejawen juga mampu berasimilasi dan sinkretisme dengan nilai-nilai agama yang pernah ada di bumi nusantara. “Kitab Suci” Kejawen adalah hidup itu sendiri. Hidup yang meliputi jagad gumelar. Terdiri dari kehidupan sehari-hari, kesejati di dalam diri, dan apa yang ada di dalam lingkungan alam sekitarnya. Semua itu disebut sebagai “kitab satra jendra”. Cara membacanya bukan dengan ucapan lisan, melainkan dengan perangkat ngelmu titen yang berlangsung turun-temurun. Membaca “kitab sastra jendra” dengan menggunakan gelmu titen, indera yang digunakan adalah indera keenam (six-sense) atau indera batin. Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam mengolah rahsa-pangrasa yakni rasajati atau rahsa sejati.

2. Di samping nilai-nilai kearifan local yang adiluhung, Kejawen menjadikan nilai-nilai “impor” yang dinilai berkualitas sebagai bahan baku yang dapat diramu dengan nilai kearifan local. Keuntungannya justru terjadi proses penyempurnaan seperangkat nilai dalam pandangan hidup Jawa atau Kejawen. Jika definisikan, mistik kejawen merupakan hasil dari interaksi nilai-nilai kearifan local yang terjadi sejak zaman kuno pada masa kebudayaan spiritual animisme, dinamisme, dan monotesime hingga saat ini. Sikap terbuka, menghargai dan toleransi, serta dasar spiritual cinta kasih sayang membuat Kejawen mudah menerima anasir asing yang positif. Berbeda dengan nilai agama yang bersifat statis, kaku atau saklek dan anti-perubahan, nilai-nilai dalam falsafah hidup Jawa bersifat fleksibel dan selalu berusaha mengolah nilai-nilai kebudayaan asing yang masuk ke nusantara misalnya Budha, Hindu, Islam, Kristen, dan sebagainya. Yang terjadi bukanlah kebangkrutan nilai-nilai falsafah Jawa itu sendiri, sebaliknya justru mengalami penyempurnaan seiring perjalanan waktu. Hingga terdapat anekdor, kalau nilai agama masuk sampai mendarah- daging, pandangan hidup Jawa bahkan mbalung-sungsum sehingga tidak pernah lapuk dan selalu eksis. Tidak hanya pada usia tua, bahkan masyarakat usia muda banyak pula yang diam-diam menghayati dan mengakui fleksibilitas dan kedalaman falsafah Kejawen. Seperti kekuatan misterius, terkadang semangat penghayatan dirasakan tiba-tiba muncul dengan sendirinya seperti panggilan darah.

3. Ritual, yang dilakukan oleh penghayat falsafah hidup Jawa. Walaupun latar belakang keagamaan masyarakat Jawa berbeda-beda, namun memiliki unsur kesamaan dalam tata laksana ritual Jawaisme. Bedanya hanyalah pada bahasa yang digunakan dalam doa atau mantra. Namun hakekat dari ritual adalah sama saja yakni bertujuan untuk selamatan. Selamatan adalah tata laku untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan yang Mahasuci. Maka dalam ritual banyak terdapat ubo rampe, atau syarat-syarat sesaji, di dalamnya banyak sekali mengandung maksud permohonan doa kepada Tuhan YME. Misalnya pada saat bulan Ruwah merupakan bulan arwah dilaksanakan acara selamatan nyadran. Bulan ruwah tepatnya satu bulan menjelang bulan puasa, hendaknya orang memuliakan para arwah leluhurnya, mendoakannya agar mendapat tempat yang mulia, luhur, dan suci. Dibuatlah ketan, kolak dan kue apem, berarti sedaya kalepatan nyuwun pangapunten. Mohon ampunan atas segala kesalahan semasa hidup. Apem berarti affuwwun, adalah lambang permohonan ampunan kepada Tuhan. Dilanjutkan acara nyekar atau ziarah dan gotong royong bersih-bersih serta merawat makam para leluhurnya sebagai wujud tindakan nyata rasa berbakti dan memuliakan pepundennya yakni para leluhurnya. Karena bagi masyarakat mistik Jawa, berbakti kepada orang tua, dilakukan tidak saja selama masih hidup, namun saat sudah meninggal dunia pun anak turun tetap harus berbakti padanya. Tidak ketinggalan pula acara bersih desa, sungai, hutan, sawah, ladang, sebagai bentuk kesadaran diri untuk selalu menghargai alam semesta sebagai anugrah terindah Tuhan yang Mahapemurah.

4. Istilah ritual seringkali diartikan secara kurang proporsional, dianggap hanya sekedar menjadi basa-basi tradisi yang irasional. Kadang malah dianggap pula sebagai kegiatan buang-buang waktu, beaya dan tenaga alias mubazir. Secara ekstrim ritual dikonotasikan sebagai kegiatan yang melenceng dari kaidah atau norma agama. Tuduhan itu sangat menyakitkan, karena tentunya hanya terucap oleh orang-orang yang tidak mampu memahami apa makna yang sesungguhnya dari mistik dan ritual. Padahal, ritual adalah tata laku yang melekat tidak bisa dipisahkan dari setiap agama, ajaran, tradisi dan budaya manapun di dunia ini. Dalam Budhisme dan Hinduisme, Islam, Yahudi, Nasrani, Kong Huchu, Sakura, dll banyak sekali terdapat berbagai ritual keagamaan. Mulai dari peringatan hari besar keagamaan hingga berbentuk tradisi agama. Bahkan masyarakat modern, tradisi Barat, masyarakat akademik, masyakarat medik, semua memiliki ritual-rutual khusus yang dutujukan untuk meraih kesuksesan termasuk keselamatan. Dalam masyarakat Jawa ritual selamatan atau slametan menjadi main stream penghayatan perilaku mistik Kejawen. Di dalamnya terdapat simbol-simbol atau perlambang berupa sesaji, mantera, ubo rampe, syarat-syarat tertentu. Semua ubo rampe sesaji mengandung makna yang dalam. Adalah keliru besar mengartikan makna sesaji sebagai pakan setan. Bagi masyarakat Jawa sangat mengenal bahwa “setan” atau makhluk halus bukan untuk diberi makan, tetapi harus diperlakukan secara adil dan bijaksana karena disadari bahwa mereka semua adalah makhluk ciptaan Tuhan juga. Manusia lantas tidak boleh bersikap negatif dan destruktif dengan mentang-mentang, semena-mena, takabur, arogan atau sombong kepada makhluk halus. Karena sikap negatif itu hanya akan membuat manusia jatuh pada derajat yang hina. Itulah keluhuran pandangan hidup manusia yang sering dituduh sebagai masyarakat engan kesadaran primitif dan tidak masuk akal.

5. Sesaji merupakan bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi baik secara vertikal maupun horisontal. Karena dasar dari mistik adalah tindakan nyata, sebagai konsekuensinya harus menghindari tabiat buruk tong kososng berbunyi nyaring, atau banyak mulut doang, tetapi enggan menghayati dalam perbuatan sehari-hari. Maka dalam berdoa pun tidak cukup diucapkan melalui mulut. Rasanya kurang afdhol atau kurang besar tekadnya dalam berdoa apabila tidak diwujudkan dalam berbagai simbol yang terdapat dalam sesaji. Misalnya; doa yang beragam hendaknya dilakukan secara tulus, suci, hati yang “putih bersih” tidak terpolusi nafsu duniawi, dan ditujukan hanya kepada Hyang Widhi atau Tuhan Yang Mahatunggal. Maka hal itu diwujudkan dalam bentuk tumpeng nasi putih berbentuk kerucut, besar di bawah, runcing di bagian atas. Bubur merah dan bubur putih dalam bancakan weton sebagai lambang ibu dan bapa. Hendaknya anak selalu ingat pada pengorbanan orang tua sejak ia di dalam kandungan ibu, lalu dilahirkan dan diasuh hingga dewasa dan mandiri. Bubur merah silang bubur putih, merupakan gambaran hubungan ibu dengan bapa diikat dengan tali cinta kasih yang tulus, sampai membuahkan anak sebagai anugrah buah cinta, dilambangkan dalam bubur baro-baro, yakni bubur putih ditumpangi parutan kelapa dan gula merah. Masih banyak lagi contoh yang dapat kita pelajari satu persatu maknanya secara esensial.

Ilmu “Kesaktian” Sejati

Kesimpulan dari semua itu, Kejawen merupakan ilmu metafisika yang transenden dan bersifat terapan. Perilaku mistik merupakan upaya yang ditempuh manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Mendekatkan diri, atau upaya manunggal jati diri dengan kehendak Tuhan (sumarah). Sikap sumarah merupakan wujud dari sikap manembah kepada Tuhan YME. Sikap manembah inilah yang menjadi pedoman utama dalam menghayati mistik Kejawen. Muara dari perjalanan spiritual pelaku mistik Kejawen, tidak lain untuk menemukan “lautan” rahmat Tuhan, berupa manunggaling kawula kalawan Gusti, atau sifat roroning atunggil (dwi tunggal). Eneng ening untuk masuk ke alam sunya ruri. Meraih nibbana menggapai nirvana, jalan wushul menuju wahdatul wujud. Dengan pencapaian pamoring kawula-Gusti, akan menciptakan ketenangan batin sekalipun menghadapai situasi dan kondisi yang sangat gawat. Karena antara manusia sebagai mahluk dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta terjadi titik temu yang harmonis. Batin manusia selalu tersambung dengan getaran energi Tuhan, menjadi dasar atas segala tindakan yang dilakukannya. Atau disitilahkan sebagai sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Sesotya adalah ungkapan yang mengandikan Tuhan bagaikan permata yang tiada taranya. “Permata” yang menyatu ke dalam embanan. Embanan sebagai ungkapan dari jasad manusia. Tuhan yang bersemayam di dalam batin (immanen), melimputi seluruh yang ada “being” di dunia ini. Jika manusia berhasil manembah, otomatis ia akan menjadi manusia yang sekti mandraguna. Kesaktian sejati, bukan berasal dari usaha yang instan hanya dengan rapal wirid semalam suntuk, atau membeli dengan mahar. Namun kesaktian itu diperoleh seseorang apabila berhasil menghayati sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Seseorang selalu manembah dalam setiap perbuatannya. Cirikhas orang yang kesaktiannya berkat manembah (kesaktian sejati/ilmu putih) apabila perilaku dan perbuatan sehari-harinya selalu sinergis dengan sifating Gusti; Welas tanpa alis (kebaikan tanpa pamrih jasad/nafsu/duniawi), tidak menyakiti hati, tidak mencelakai, dan merugikan orang lain. Dilakukan dalam kurun waktu lama, tidak angin-anginan atau plin-plan, dilakukan secara konsisten, teguh, dan penuh ketulusan serta kasih sayang tanpa pilih kasih. Monggo dilanjut.